Supriadi Goma Kembali Nahkodai PCNU Strategi Digital & Kultural Menuju Lima Tahun Emas 2025-2030
Wartabmr – Terpilihnya kembali Supriadi Goma sebagai Ketua PCNU (Pimpinan Cabang Nahdlatul Ulama) untuk Masa Khidmat 2025-2030 setelah Laporan Pertanggungjawaban (LPJ) diterima dan disahkan, menegaskan konsolidasi organisasi yang solid. Peristiwa ini bukan sekadar pergantian kepemimpinan, melainkan tonggak strategis. Oleh karena itu, kepemimpinan baru ini menghadapi eskalasi peran NU sebagai penjaga tradisi sekaligus akselerator perubahan, di tengah arus deras disrupsi digital dan tantangan geopolitik. Pertanyaannya, strategi inti apa yang akan dibawa oleh Supriadi Goma untuk memastikan NU tetap relevan dan progresif?
Mengupas Tuntas Penerimaan LPJ Bukti Kepercayaan dan Akuntabilitas
Penerimaan LPJ menandakan kepercayaan internal yang menjadi indikator kunci. Lebih lanjut, hal ini menunjukkan bahwa program kerja, manajemen sumber daya, dan pencapaian target pada periode sebelumnya dianggap berhasil dan akuntabel. Memang, akuntabilitas sangat krusial dalam konteks organisasi sebesar NU.
Transparansi dan kepatuhan LPJ yang disahkan menunjukkan transparansi dalam pengelolaan aset dan program.
Konsolidasi internal terpilihnya kembali pemimpin yang sama seringkali mencerminkan keinginan kuat untuk melanjutkan visi yang sudah terbukti. Dengan demikian, hal ini meminimalkan friksi internal dan memperkuat soliditas organisasi.
Tiga Pilar Strategi PCNU 2025-2030 di Bawah Supriadi Goma
Masa khidmat 2025-2030 akan fokus pada tiga sumbu utama: Digitalisasi, Kemandirian Ekonomi, dan Penguatan Kajian Kultural. Selanjutnya, Supriadi Goma dan timnya harus memastikan semua pilar ini berjalan selaras.
Transformasi Digital Merangkul Generasi Z dan Milenial
Organisasi keagamaan-kultural saat ini menghadapi tantangan terbesar, yaitu relevansi bagi Generasi Z dan Milenial. Strategi digital harus menjadi fokus utama, misalnya melalui:
Ekspansi Konten Daring: Kami perlu memproduksi konten-konten dakwah, kajian, dan edukasi yang ringkas, visual, dan sesuai format platform populer (YouTube, TikTok, Podcast).
Layanan Digital Berbasis Umat: PCNU harus mengembangkan aplikasi atau platform yang memfasilitasi layanan sosial, pendidikan, atau kesehatan bagi anggota NU.
Literasi Digital: Kami harus mengedukasi warga NU agar cakap dalam membedakan informasi benar (hoax) dan memanfaatkan teknologi secara positif.
Kemandirian Ekonomi Umat Penguatan Lembaga Perekonomian NU
Demi memastikan keberlanjutan misi organisasi, kemandirian ekonomi menjadi prioritas. Langkah ini akan melibatkan:
Pengembangan Koperasi Syariah: PCNU harus merevitalisasi peran koperasi sebagai tulang punggung ekonomi kerakyatan berbasis pesantren dan majelis taklim.
Kemitraan Strategis: Kami perlu membangun kolaborasi dengan sektor swasta dan pemerintah daerah untuk program pemberdayaan UMKM (Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah) berbasis komunitas NU.
Konservasi dan Inovasi Kultural Menjaga Tradisi
NU dikenal sebagai penjaga Islam Nusantara. Namun, di era globalisasi, peran ini perlu diperkuat, tidak hanya konservasi, tetapi juga inovasi:
Kajian Fiqih Kontemporer: Kami harus menyelenggarakan kajian yang menjawab isu-isu modern dengan perspektif Ahlussunnah wal Jama’ah (Aswaja).
Diplomasi Kultural: PCNU harus menggunakan kekayaan tradisi NU sebagai aset diplomasi lunak di tingkat nasional maupun internasional.
Terpilihnya kembali Supriadi Goma memberikan sinyal kontinuitas program yang telah berjalan baik. Namun, ia juga membawa tuntutan untuk akselerasi di bidang-bidang baru, terutama digital. Periode 2025-2030 adalah fase penentuan bagi PCNU. Mereka harus membuktikan bahwa organisasi mampu menjadi pilar utama peradaban Indonesia yang adaptif, kuat secara kultural, dan mandiri secara ekonomi. Kami berharap, konsolidasi kepemimpinan ini akan mampu membawa organisasi menuju “Lima Tahun Emas” yang penuh inovasi dan kebermanfaatan.