Tak Berkategori

Bank Indonesia Mengangkat Batik Khas Sulawesi Utara ke Panggung Internasional

MANADO – 26/11/2025 Batik, sebagai warisan budaya tak benda Indonesia, adalah jembatan yang menghubungkan masa lalu, nilai filosofi, dan potensi ekonomi masa depan. Di tengah gemerlapnya batik Jawa yang sudah mendunia, muncul suara wastra (kain tradisional) dari timur Indonesia, khususnya Batik Khas Sulawesi Utara (Sulut). Kisah ini bukan sekadar tentang kain bermotif, melainkan sinergi kuat antara semangat pengrajin lokal dan dukungan strategis institusi negara. Aktor utama di balik kebangkitan dan eksistensi batik Sulut di kancah mancanegara adalah sebuah kolaborasi apik, yang salah satunya dimotori oleh Bank Indonesia (BI).

Dari Ejekan Menjadi Eksportir Transformasi Zabay Collection

Perjalanan Batik Sulut tidaklah instan. Mariani Montu, pemilik Zabay Collection, memulainya dari sebuah rasa ingin tahu yang besar. Ia yang awalnya adalah pengrajin batok kelapa dan sablon, beralih mencoba menggarap motif khas Sulut pada kain. Transformasi ini diawali oleh tantangan; ia sempat diejek karena karyanya dianggap sekadar sablon, bukan batik sejati.

Titik balik datang pada tahun 2017 ketika Bank Indonesia melalui Kantor Perwakilan Provinsi Sulawesi Utara (KPw BI Sulut) melihat potensi ini. Dukungan BI tidak hanya bersifat finansial, melainkan holistik. Program pembinaan ini mencakup pelatihan teknis mendalam, sertifikasi desain batik, dan yang paling krusial, pendampingan mental saat masa sulit seperti pandemi COVID-19.

Motif Cengkeh Ikon Ekonomi dan Jati Diri Sulut

Salah satu pencapaian terbesar dari pendampingan BI adalah penemuan dan penetapan motif cengkeh sebagai motif khas Sulawesi Utara pada tahun 2021. Motif cengkeh bukan sekadar hiasan; ia adalah representasi sejarah, komoditas unggulan, dan denyut nadi ekonomi daerah. Penetapan ikon ini memberikan identitas yang kuat, membedakan Batik Manado dan Sulut dari batik daerah lain.

Pembukaan pasar setelah memiliki identitas yang kuat, BI memfasilitasi Zabay Collection untuk mengikuti berbagai pameran bergengsi di berbagai daerah.

Adaptasi cerdas pameran tersebut mengajarkan adaptasi pasar. Pengrajin belajar bahwa pasar Manado cenderung menyukai warna-warna berani, sementara pasar luar daerah dan internasional lebih menggemari palet warna pastel yang lembut.

Pengembangan produk sari sekadar kain, Zabay kini berinovasi membuat pakaian siap pakai, bahkan pernah tampil dalam peragaan busana bersama desainer nasional sekelas Itang Yunasz dan Dian Pelangi.

Melestarikan Wastra Tertua Kontribusi Krisma Kain Bentenan dan Digitalisasi

Dukungan BI terhadap wastra Sulut tidak berhenti pada batik. Program pendampingan UMKM yang dikenal sebagai program Wanua juga merangkul mitra lain, seperti Krisma Kain Bentenan. Brand ini berfokus pada pelestarian Kain Bentenan, wastra tertua di Sulawesi Utara yang sarat akan makna filosofis hidup orang Minahasa.

Filosofi di Balik Setiap Benang

Manager Krisma Kain Bentenan, Mark Sahuleka, menjelaskan bahwa Kain Bentenan telah eksis selama 20 tahun dan menjadi penjaga warisan budaya. Keragaman motifnya, seperti Tinonton Mata, Kaiwoe Patola, Tombatu, dan Pinatikan Bantik, masing-masing membawa nilai dan makna filosofis mendalam.

Perluasan pasar B2B dan B2C kemitraan dengan BI sejak 2023, terutama dalam kegiatan ekonomi kreatif, telah membuka jalan bagi Krisma Kain Bentenan untuk memperluas pasar hingga ke luar negeri, termasuk partisipasi dalam program nasional seperti Bangga Buatan Indonesia (BBI).

Edukasi digitalisasi pembayaran BI juga berperan krusial dalam mengenalkan sistem pembayaran digital. Hal ini mempermudah transaksi B2B dan B2C yang semakin meluas.

Strategi pemasaran terukur meskipun didorong ke e-commerce, Krisma Kain Bentenan memilih fokus pada social commerce (Instagram) untuk segmen premium mereka. Keputusan ini diambil secara strategis untuk menjaga eksklusivitas merek dan menghindari pemalsuan, mencerminkan pemahaman matang tentang pangsa pasar.

Mendorong Ekonomi Berkelanjutan Melalui Budaya

Dukungan Bank Indonesia di balik eksistensi Batik Khas Sulawesi Utara adalah contoh nyata model pembangunan ekonomi yang berkelanjutan. Program pembinaan BI, mulai dari digitalisasi, pembukuan, studi banding, hingga fasilitas pameran, memastikan bahwa UMKM seperti Zabay Collection dan Krisma Kain Bentenan tidak hanya bertahan, tetapi juga berkembang secara struktural.

Menegaskan bahwa wastra Indonesia adalah aset ekonomi yang luar biasa. Dengan mengangkat motif lokal seperti cengkeh dan Kain Bentenan ke panggung global, BI tidak hanya meningkatkan pendapatan daerah, tetapi juga mempromosikan kekayaan budaya Minahasa, memastikan bahwa setiap helai kain yang terjual menceritakan kisah autentik dari Sulawesi Utara.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *