Gunung Ambang ‘Normal’ Tapi Berbahaya
KOTAMOBAGU – 26/11/2026 Berada di bawah payung ancaman geologi yang kompleks, mulai dari gempa bumi, gerakan tanah, hingga potensi aktivitas vulkanik. Baru-baru ini, Balai Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) melalui Balai Pengamatan Gunung Api dan Mitigasi Bencana Gerakan tanah (PGAMBGT) Sulawesi–Maluku menggelar sosialisasi vital. Kegiatan di Hotel Sutan Raja ini bukan hanya sekadar pertemuan, melainkan upaya mendalam untuk menanamkan pemahaman bahwa dalam konteks bencana, pengetahuan adalah perlindungan pertama bukan hanya perlengkapan fisik.
Menyingkap Ancaman Diam Gunung Ambang
Salah satu sorotan utama dalam sosialisasi Mitigasi Bencana Geologi Kotamobagu adalah status Gunung Ambang. Kepala Balai PGAMBGT Sulawesi–Maluku, Juliana Rumambi, memaparkan bahwa gunung tersebut memang berada pada Level I (Normal). Namun, PVMBG menegaskan sebuah fakta krusial status “normal” tidak pernah identik dengan “aman”.
Gunung Ambang memiliki sejarah erupsi besar yang dampaknya pernah mencapai Kotamobagu dan wilayah sekitar. Saat ini, yang menjadi kekhawatiran spesifik adalah kawah Gunung Ambang yang terbuka. Kawah ini berpotensi mengeluarkan gas beracun tanpa peringatan, menjadikannya ancaman serius.
Imbauan Penyelamat Nyawa dari PVMBG
Untuk meminimalkan risiko bagi masyarakat, terutama para pendaki dan warga yang tinggal di lereng gunung, PVMBG mengeluarkan tiga imbauan yang wajib dipatuhi.
Dilarang bermalam di area kawah area kawah adalah zona paling rentan terhadap pelepasan gas beracun mendadak. Jangan mendaki saat cuaca buruk kondisi cuaca buruk meningkatkan risiko gerakan tanah dan bahaya lain. Waspadai erupsi freatik erupsi jenis ini terjadi tiba-tiba, didorong oleh uap air, dan seringkali tanpa tanda-tanda awal yang jelas.
Ancaman terbesar yang ditekankan oleh PVMBG adalah erupsi freatik. Peristiwa ini, terutama saat musim hujan, dapat terjadi dengan cepat dan membawa bahaya yang ekstrem. Program peningkatan kapasitas dan edukasi ini menjadi vital untuk memastikan masyarakat tahu cara merespons ancaman mendadak tersebut.
Peran Camat dan Sangadi sebagai ‘Corong’ Informasi Mitigasi
Sosialisasi ini menyoroti pentingnya rantai komunikasi yang efektif. PVMBG memberikan perhatian khusus pada kehadiran camat dan sangadi (kepala desa) dari wilayah-wilayah yang berpotensi terdampak. Mereka diidentifikasi sebagai “corong” utama untuk menyalurkan informasi mitigasi bencana geologi langsung kepada masyarakat.
Kepala BPBD Kotamobagu, Asriyanti, menyambut baik inisiatif ini, menekankan bahwa informasi seperti ini harus menjangkau setiap lapisan masyarakat. Kesiapsiagaan, menurutnya, adalah kunci. Jika masyarakat tahu apa yang harus dilakukan sejak awal, potensi kepanikan dapat dihindari, dan langkah-langkah antisipasi dapat diambil dengan tepat.
Pengetahuan Adalah Investasi Kesiapsiagaan Terbaik
Rangkaian kegiatan sosialisasi ini, yang akan ditutup di Kota Bitung, menegaskan kembali filosofi utama PVMBG: “Kami datang untuk memberikan pengetahuan, bukan untuk membagikan perlengkapan. Pengetahuan inilah yang menyelamatkan.”
Dengan memahami secara mendalam potensi ancaman geologi di sekitar Kotamobagu dan Gunung Ambang, masyarakat dapat beralih dari fase pasif (hanya menunggu) ke fase aktif (siaga dan antisipatif). Upaya kolektif antara PVMBG, pemerintah daerah, media, dan masyarakat dalam menerapkan strategi Mitigasi Bencana Geologi Kotamobagu akan menjadi benteng terkuat dalam menjaga keselamatan dan meminimalkan kerugian saat bencana benar-benar terjadi. Kesiapsiagaan adalah kunci untuk masa depan yang lebih aman.